Ironi dari sisitem pendidikan di era ini menjadi dampak akan kehidupan materialistik yang ditanamkan di dalam pikiran Rakyat. Penghianatan atas filososfi pendidikan Negara ini menjadi massif dan tak terkontrol melalui regulasi-regulasi titipan politik hukum para pemodal. Memperhatikan bahwa model pendidikan saat ini lebih mengerucut kepada sistem pola pendidikan pasar yang dibangun oleh Amerika, Inggris dan singapura, dimana mereka merupakan Negara Kapitalis yang menginginkan bangsa ini menjadi pusat eksploitasi secara infrastruktur dan suprastruktur. Sehingga, berbagai konstruk pun berdatangan dan menuntaskannya melalui penghapusan identitas kebudayaan melalui proses hegemoni yang berlebihan.
Pendidikan yang mengena kepada bangsa Timur adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Tiga hal inilah dasar jiwa untuk mendidik bangsa dan mengarahkannya kepada politik pembebasan atau kemerdekaan. Pengalaman yang diperoleh dalam mendalami pendidikan yang humanis ini dengan menggabungkan model sekolah Maria Montessori (Italia) dan Rabindranath Tagore (India). Dua sistem pendidikan yang dilakukan dua tokoh pendidik ini sangat cocok untuk sistem pendidikan bumiputra. Lalu dari mengadaptasi dua sistim pendidikan itu menemukan istilah yang harus dipatuhi dan menjadi karakter, yaitu Patrap Guru, atau tingkah laku guru yang menjadi panutan murid-murid dan masyarakat (Ki Hadjar Dewantara, 1952: 107-115).
Pendidikan yang mengena kepada bangsa Timur adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Tiga hal inilah dasar jiwa untuk mendidik bangsa dan mengarahkannya kepada politik pembebasan atau kemerdekaan. Pengalaman yang diperoleh dalam mendalami pendidikan yang humanis ini dengan menggabungkan model sekolah Maria Montessori (Italia) dan Rabindranath Tagore (India). Dua sistem pendidikan yang dilakukan dua tokoh pendidik ini sangat cocok untuk sistem pendidikan bumiputra. Lalu dari mengadaptasi dua sistim pendidikan itu menemukan istilah yang harus dipatuhi dan menjadi karakter, yaitu Patrap Guru, atau tingkah laku guru yang menjadi panutan murid-murid dan masyarakat (Ki Hadjar Dewantara, 1952: 107-115).
Mahasiswa secara ideal harus menyadari kondisi tersebut, karena secara non-struktural mereka tidak sepenuhnya terikat oleh pemerintahan. Pemahaman akan kesadaran secara objektif akan posisi dirinya sebagai sosok yang mengemban kata “Maha” menjadi konklusi kebebasan mereka dalam berpendapat serta membela kaum termarjinalkan melalui kaca mata kebijaksanaannya. Sejarah tidak pernah berbohong dalam fakta tertulisnya, bahwa pemuda atau mahasiswa memiliki posisi penting dalam mengubah bangsa ini dari penindasan kaum kolonialisme serta otoritarian kepemimpinan yang terjadi dari masa ke masa.
Mahasiswa di era ini memang buta akan sejarah, tanggungjawab dan substansinya sebagai sosok yang terpenting dalam struktur sosialnya, karena dirinya sibuk beronani di dalam kehidupan hingar bingar materialistik. Keterjangkitan oleh virus hedonisme dan pola pikir praktis adalah ciri-ciri mahasiswa hari ini. Pilihan mereka hanya satu yaitu kesenangan, sehingga mereka sangat muda untuk dibodohi melalui sistem tersebut dan tentu kebodohan tersebut merembes kepada lapisan bawah masyarakat. Terjangkitnya kemalasan dalam membaca buku, menulis serta berdiskusi secara ilmiah dan kritis telah merembes ke sudut-sudut kampus dan akibatnya mereka menjadi bodoh, malas dan apatis terhadap lingkungannya. Tentu iklim tersebut akan tidak menghasilkan hal yang baru serta kampus yang dikenal sebagai laboratorium Ilmiah pasti akan kehiangan eksistensinya.
Kampus adalah benteng terakhir mahasiswa hari ini. Kegelapan tentu menjadi wajah mahasiswa yang tak disinari oleh cahaya pengetahuan dan tentu gerakan akan mati serta pemerintah akan semakin merajalela dalam melakukan gencaran agresi penghisapan dan penindasan secara berlebihan. Orang tua akan mengalami penyesalan di kemudian hari bahkan petani, buruh dan masyarakat miskin kota akan semakin sengsara.
Kampus adalah benteng terakhir mahasiswa hari ini. Kegelapan tentu menjadi wajah mahasiswa yang tak disinari oleh cahaya pengetahuan dan tentu gerakan akan mati serta pemerintah akan semakin merajalela dalam melakukan gencaran agresi penghisapan dan penindasan secara berlebihan. Orang tua akan mengalami penyesalan di kemudian hari bahkan petani, buruh dan masyarakat miskin kota akan semakin sengsara.